Shortcourse Padepokan Aufklarung VI Al Hikmah Institute Ditutup, Peserta Tampilkan Refleksi Kritis
Short Course Padepokan Aufklarung VI yang diselenggarakan Al Hikmah Institute Makassar bekerja sama dengan CEIS resmi ditutup setelah 32 hari pembelajaran intensif. Penutupan berlangsung reflektif dan ekspresif, diwarnai penampilan peserta serta pesan-pesan kritis yang merefleksikan proses intelektual, kedisiplinan, dan keberanian berpikir yang tumbuh selama pelatihan.
NEWS & EVENTS
J. Solong (Aktivis CEIS Makassar)
1/21/2026


Malam puncak short course Padepokan Aufklarung VI yang diselenggarakan Al Hikmah Institute Makassar bekerja sama dengan Center for Eastern Indonesia Studies (CEIS) berlangsung pada Selasa (20/1/2026). Kegiatan ini menandai berakhirnya proses pembelajaran intensif selama 32 hari, yang berlangsung sejak 20 Desember 2025 hingga 20 Januari 2026. Penutupan padepokan tidak hanya bersifat seremonial. Forum tersebut justru dijadikan ruang ekspresi dan refleksi kritis bagi para peserta. Melalui berbagai penampilan performatif—seperti pembacaan puisi, orasi ilmiah, dan persembahan lagu—peserta menyampaikan gagasan, kegelisahan intelektual, serta kritik sosial yang lahir dari proses pembelajaran selama pelatihan.
Direktur Al Hikmah Institute, Juliadi Solong, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pemateri, steering committee, Master of Training, serta panitia yang dinilainya telah menunjukkan dedikasi dan pengorbanan sehingga seluruh rangkaian Padepokan Aufklarung VI dapat terlaksana dengan baik. Secara khusus, ia memberikan penghargaan kepada Nur Ramadhan La Udu (Ragen) selaku koordinator steering committee. Menurut Juliadi, peran Ragen sangat signifikan dalam mengawal jalannya kegiatan. “Ia menghibahkan waktu dan energinya secara luar biasa, bahkan lebih banyak berada di forum dibandingkan di rumah, demi memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan optimal,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Juliadi juga mengingatkan bahwa keinginan untuk berubah dan meraih capaian yang lebih tinggi merupakan motivasi mendasar, baik bagi individu maupun masyarakat. Ia menekankan bahwa sejarah perubahan sosial dunia menunjukkan satu kesamaan utama. “Baik perubahan sosial yang dimotori masyarakat, seperti di Eropa Barat, maupun yang digerakkan oleh elit atau kaum intelektual, seperti di Cina dan Amerika, semuanya memiliki kesamaan, yakni rasionalitas kritis,” kata Juliadi. Sesi penutupan dilanjutkan dengan pembacaan kelulusan peserta oleh Koordinator Steering Committee, yang kemudian diikuti dengan penyerahan sertifikat oleh Andi Ashim Amir. Momen tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para peserta.
Akhirnya, Padepokan Aufklarung ditutup dengan sesi pesan dan kesan dari para peserta sebagai bentuk refleksi atas proses pelatihan intensif yang telah berlangsung selama satu bulan. Maryam, peserta asal Kalimantan, dalam testimoninya menyampaikan bahwa waktu satu bulan terasa singkat, namun meninggalkan kesan yang mendalam. Ia menilai pelatihan ini tidak hanya menghadirkan ilmu yang bermakna, tetapi juga membangun ikatan kekeluargaan antarpeserta. Diskusi-diskusi kelas yang serius diselingi tawa menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Ia berharap Al Hikmah Institute terus menjadi “lilin” yang menyalakan semangat intelektual tanpa memadamkan keunikan tiap individu. Sementara itu, M. Irgy Ramanzah dari Kolaka menilai suasana belajar di Al Hikmah Institute terasa nyaman dan terbuka. Menurutnya, para pengajar tidak hanya menyampaikan materi secara sistematis, tetapi juga memberi motivasi serta pendampingan yang membangun. Ia berharap ke depan metode pembelajaran dapat terus dikembangkan agar semakin variatif dan menarik.
Peserta lainnya, Muhammad Samsul Rahman dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menyampaikan kesan dalam bentuk refleksi puitik. Ia menggambarkan pengalaman belajar di Al Hikmah sebagai proses pencerahan yang membebaskan sekaligus mendisiplinkan. Aturan yang ketat dan ritme pelatihan yang tinggi, menurutnya, menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan ketangguhan intelektual. Kenangan kebersamaan dengan sesama peserta, panitia, dan pengajar disebutnya sebagai pengalaman yang akan terus melekat. Penutupan Padepokan Aufklarung VI berlangsung dalam suasana haru. Sejumlah peserta tampak menitikkan air mata, menandai berakhirnya sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk ikatan, kesadaran, dan keberanian berpikir kritis.




















