Raja Ampat; Surga yang Terluka
Refleksi ekologis dan spiritual atas kerusakan lingkungan di Raja Ampat akibat ancaman pertambangan nikel. Penulis mengajak pembaca untuk mengubah cara pandang terhadap alam—dari objek eksploitasi menjadi entitas sakral yang terhubung dengan kehidupan manusia.
FIELD NOTES & ETHNOGRAPHY
Dulhamidin Furu (Koordinator CEIS Papua)
6/5/2025


“What’s the True Cost of Your Nickel?”
“Nickel Mines Destroy Lives.”
“Save Raja Ampat from Nickel Mining.”
Tiga spanduk itu dibentangkan lima aktivis Greenpeace sembari berteriak, "Save Raja Ampat," saat Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, menyampaikan sambutan dalam Conference & Expo di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa, 3 Juni 2025. Seruan itu menggema, menyayat kesadaran kita yang mulai tumpul oleh rutinitas pembangunan yang rakus namun abai pada daya dukung bumi.
Apa yang terjadi di Raja Ampat bukan sekadar konflik antara konservasi dan industri. Ia adalah satu dari ribuan tragedi ekologis yang menandai krisis relasi antara manusia dan alam.
Planet ini menghadapi luka yang dalam. Tak hanya di permukaan tanah, tetapi juga di kedalaman laut, di udara yang kita hirup, bahkan di ekosistem mikroskopik yang tak tampak mata. Semua ini berpangkal pada satu hal: kesalahan dalam cara kita memahami dan mengelola kehidupan.
Kita telah lama terjebak dalam cara pandang yang melihat alam sebagai objek mati—sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Padahal, dalam khazanah filsafat kuno, manusia disebut mikrokosmos—miniatur dari makrokosmos, yakni alam semesta. Hubungan keduanya bukan hanya simbolik, tetapi ontologis. Kita berasal dari bahan dasar yang sama, tersusun oleh unsur yang serupa, dan hidup dalam jejaring yang saling terhubung.
Maka, ketika satu bagian alam rusak, seluruh tubuh semesta merasakan dampaknya. Paradigma ekologis kita pun mesti bergeser: dari yang antroposentris ke yang holistik. Dari pendekatan eksploitatif ke spiritual-ekologis. Dari relasi kuasa ke relasi kasih.
Tokoh seperti Henri Bergson menyebut adanya élan vital, daya hidup semesta yang menyatu dalam setiap makhluk. Jalaluddin Rumi menyebutnya mahabbah—cinta yang menyatukan segalanya. Dalam hutan, di dasar laut, di udara yang kita hirup, tersimpan jejak kehadiran yang Ilahi—vestigia Dei, tajalli Ilahi.
Sayangnya, relasi sakral ini terus-menerus diancam oleh satu penyakit lama: keserakahan. Ia menyusup dalam kebijakan ekonomi, proyek investasi, hingga gaya hidup sehari-hari. Keserakahan bukan semata rakus, tetapi hilangnya kesadaran akan jati diri kita sebagai bagian dari kosmos.
Tanpa kesadaran kosmologis dan etik ekologis, lautan pun tak akan cukup untuk memuaskan kerakusan manusia.
Papua, khususnya Raja Ampat, adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati yang masih bertahan. Ia bukan hanya indah dipandang, tetapi penting untuk kelangsungan hidup bumi. Menyulapnya menjadi tambang demi tambang adalah bukti kegagalan berpikir ekologis. Papua bukan objek eksplorasi, melainkan subjek kehidupan itu sendiri: hutan yang bernapas, laut yang menumbuhkan, dan budaya yang memuliakan alam.
Kita tidak punya banyak waktu. Krisis iklim adalah nyata, dan titik balik bisa jadi sudah lewat.
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara pandang. Dari kesadaran bahwa manusia dan alam adalah satu tubuh. Menyakiti satu bagian berarti menyakiti keseluruhan.
Kalau bukan kitorang, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
#LawanKeserakahan #ManusiadanAlamSatuTubuh #SaveRajaAmpat #SavePapua #SaveDunia
