Peringati Wiladah Imam Ali, Al Hikmah Institute Soroti Hakikat Pengetahuan dan Tujuan Hidup
Peringatan Wiladah Imam Ali bin Abi Thalib as yang diselenggarakan Al Hikmah Institute Makassar menjadi ruang refleksi intelektual dan spiritual tentang hakikat pengetahuan dan tujuan hidup manusia. Melalui ceramah Mohammad Adlany, Ph.D, Imam Ali diposisikan sebagai pintu pengetahuan dan figur sentral dalam kesinambungan bimbingan ilahi, sekaligus penuntun manusia untuk mencapai aktualitas ontologis tertingginya.
NEWS & EVENTS
J. Solong (Aktivis CEIS Makassar)
1/23/2026


Dalam rangka memperingati wiladah Imam Ali bin Abi Thalib as pada 13 Rajab 1447 H, Al Hikmah Institute Makassar menyelenggarakan acara Doa dan Wiladah Imam Ali as pada Kamis (15/1/2025). Kegiatan ini berlangsung di Sekretariat Al Hikmah Institute Makassar dan dihadiri oleh kalangan mahasiswa dan peserta padepokan aufklarung VI.
Dalam ceramahnya, Mohammad Adlany, PhD, menegaskan posisi Imam Ali sebagai sosok luar biasa setelah Rasulullah Saw. Namun, keistimewaan tersebut tidak dimaknai sebagai jarak kualitas yang terputus dari kenabian. Menurut Adlani, Imam Ali telah mencapai tingkat intelektual dan spiritual yang sepadan dengan capaian rasional Nabi Muhammad Saw.
“Imam Ali dikenal sebagai pintu pengetahuan. Untuk sampai pada hakikat pengetahuan, seseorang harus melewati beliau atau ajaran-ajarannya. Ini bukan sekadar simbolik, melainkan menunjukkan bahwa Imam Ali telah mencapai akal kenabian,” ujar Adlany.
Ia menjelaskan, pengetahuan Imam Ali tidak bersifat sekadar transmisi atau nukilan dari Rasulullah Saw, melainkan bersifat huduri—pengetahuan langsung—melalui apa yang disebut sebagai akal malaikat. Dengan akal tersebut, pengetahuan hadir tanpa perantara. Adlany juga mengulas pengakuan langsung Rasulullah Saw terhadap kualitas Imam Ali, yang menurutnya tercermin dalam peristiwa penting sepulang Nabi dari Haji Wada. Dalam perjalanan itu, Rasulullah Saw memerintahkan seluruh rombongan—baik yang telah berada di depan maupun yang tertinggal di belakang—untuk berkumpul di bawah terik matahari. Di hadapan para sahabat, Nabi menyampaikan pidato dengan menunjuk Imam Ali sebagai penerus ajarannya.
Lebih lanjut, Adlany mengutip sabda Imam Ali dalam Nahjul Balaghah, Bab 5 nomor 297: “Allah merahmati orang yang mengetahui dari mana ia berasal, di mana ia berada, dan akan ke mana ia menuju.” Menurutnya, ungkapan tersebut memuat kerangka filosofis tentang eksistensi manusia. “Pertanyaan ‘dari mana’ berkaitan dengan asal-usul eksistensial manusia. Melalui perenungan yang benar, manusia akan menyadari dirinya sebagai makhluk ciptaan yang bergantung dan tidak otonom secara mutlak,” jelasnya.
Sementara itu, pertanyaan ‘di mana’ merujuk pada keberadaan manusia di alam materi yang senantiasa berubah. Perubahan tubuh bersifat niscaya, tetapi yang menjadi persoalan utama adalah ke arah mana jiwa manusia ditransformasikan.
“Manusia dibekali akal dan syahwat. Jika akal dijadikan instrumen transformasi, manusia akan mencapai aktualitas tertingginya, yakni akal malaikat. Namun jika syahwat yang mendominasi, maka manusia justru mengalami penurunan tingkat ontologis,” kata Adlany. Ia mengingatkan bahwa penurunan tersebut dapat menyerupai karakter hewan buas, yakni manusia yang hanya merasa bermakna ketika memangsa atau menindas sesamanya. Adapun pertanyaan ‘akan ke mana’ dipandang sebagai konsekuensi rasional dari pemahaman tentang asal-usul dan posisi manusia. Tujuan akhir manusia, menurut Adlani, sangat ditentukan oleh ikhtiar, sementara ikhtiar itu sendiri bergantung pada pemahaman eksistensial yang dimiliki.
“Karena itu, apa yang dipilih manusia itulah yang akan ia peroleh dan pertanggungjawabkan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Adlany menegaskan bahwa wahyu hadir sebagai konsekuensi rasional untuk mengharmoniskan antara tindakan manusia dan tujuan eksistensialnya. Keberadaan Imam Ali, lanjutnya, menjadi otoritas wilayah yang memastikan kesinambungan bimbingan ilahi itu.
“ Hidup bukanlah tanpa tujuan. Mencapai aktualitas ontologis manusia sebagaimana mestinya adalah keharusan, dan hukum-hukum Tuhan adalah jalan untuk mencapainya,” pungkas Adlany.














