Padepokan Aufklärung VI: Merawat Nalar dan Menyuburkan Kesadaran Mahasiswa

Padepokan Aufklärung VI merupakan short course intelektual-spiritual yang diinisiasi Al-Hikmah Institute Makassar sebagai ikhtiar merespons krisis literasi dan epistemologi di kalangan mahasiswa. Kegiatan ini menekankan penguatan nalar kritis, kedalaman berpikir filosofis, serta internalisasi nilai-nilai teologis yang membumi dan berkeadilan sosial.

KNOWLEDGE PRODUCTION

Siti Asma Ahmad (Pelajar A; Hikmah Institute)

1/16/2026

Di sela pelaksanaan Short Course Padepokan Aufklärung VI, Jumat, 16 Januari 2026 Tim Al-Hikmah Institute, Siti Asma Ahmad mewawancarai Ramadhan La Udu, Koordinator Steering sekaligus pemateri Teologi Kontemporer dalam kegiatan tahunan tersebut.

Ramadhan La Udu, yang akrab disapa Ragen, dikenal sebagai pembina dan pengajar di Al-Hikmah Institute Makassar. Ia juga aktif mengisi berbagai forum diskusi dan pengkaderan intelektual, khususnya pada forum LK II Nasional di sejumlah daerah dalam lingkup Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saat ini, Ragen tengah menempuh studi magister (S2) di UIN Alauddin Makassar.

Padepokan Aufklärung VI lahir dari kegelisahan atas kondisi generasi muda yang dinilai menghadapi darurat literasi, krisis epistemologi, serta defisit intelektual dalam membaca realitas sosial dan keagamaan. Menurut Ragen, short course ini merupakan ikhtiar lembaga pendidikan nonformal Al-Hikmah Institute untuk ikut berkontribusi memecah kebekuan berpikir di kalangan mahasiswa. “Kami melihat adanya kemandekan cara berpikir mahasiswa hari ini. Al-Hikmah Institute ingin hadir memberi sumbangan, sekecil apa pun, untuk menurunkan defisit literasi dan krisis epistemik tersebut,” ujar Ragen.

Sejak angkatan pertama hingga Padepokan Aufklärung VI, spirit yang diusung tetap konsisten, yakni Aufklärung atau pencerahan. Namun, Ragen menegaskan bahwa pencerahan yang dimaksud bukanlah Aufklärung dalam pengertian modernisme Barat yang menegasikan agama. “Aufklärung yang kami maksud adalah pencerahan intelektual dan spiritual secara seimbang. Intelektualitas tanpa spiritualitas akan kering, sementara spiritualitas tanpa intelektualitas berpotensi melahirkan sikap dogmatis,” katanya.

Spirit tersebut kemudian diterapkan dalam aktivitas keseharian peserta melalui penguatan kapasitas berpikir kritis sekaligus pembentukan kesadaran spiritual. Materi short course disusun secara struktural dan berjenjang, mulai dari logika, epistemologi, filsafat Barat, filsafat Islam, hingga teologi klasik dan kontemporer. Pendekatan ini, menurut Ragen, berangkat dari kesadaran bahwa perubahan sosial hanya mungkin terjadi jika generasi muda terbebas dari kekeliruan berpikir (fallacy). “Logika dan epistemologi menjadi fondasi. Seperti kata Kang Jalal, perubahan sosial dimulai dari kebebasan berpikir kaum muda. Karena itu, logika diperkuat oleh filsafat dan teologi,” ujarnya.

Melalui perbandingan filsafat Barat dan Islam, peserta diajak memahami dua tradisi pemikiran besar dunia. Sementara teologi dihadirkan bukan sekadar sebagai doktrin normatif, melainkan sebagai paradigma berpikir yang kontekstual dan membumi. Sebagai pemateri teologi, Ragen menilai tantangan utama peserta bukan pada minimnya pengetahuan dasar agama, melainkan pada pola keberagamaan yang masih bersifat formalistik. “Banyak yang beragama secara normatif, tetapi nilai keadilan dan kesadaran akan hari akhir belum terinternalisasi secara mendalam,” katanya. Karena itu, pendekatan pembelajaran lebih diarahkan pada pembangkitan kesadaran substantif. Agama, menurut Ragen, seharusnya tercermin dalam kepekaan sosial. “Jika seseorang mengaku beragama tetapi tidak tergugah melihat ketidakadilan atau orang kelaparan akibat sistem yang timpang, maka ada persoalan dalam cara beragamanya,” ujarnya. Diskusi-diskusi teologi dalam Padepokan Aufklärung VI berlangsung intens dan dialogis.

Peserta berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari keluarga religius, kampus Islam, hingga mereka yang menjalani praktik keagamaan secara sederhana. Isu-isu teologis yang dibahas kerap mengguncang cara pandang lama, terutama ketika agama diperkenalkan melalui pendekatan rasional. “Sebagian peserta terkejut ketika menyadari bahwa agama tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga rasional. Dari situ muncul kesadaran baru untuk terus belajar,” kata Ragen. Sebagai Koordinator Steering, Ragen berharap short course ini mampu menumbuhkan kesadaran belajar, menguatkan intelektualitas, dan memperdalam spiritualitas peserta. Sementara sebagai pemateri teologi, ia berharap peserta dapat memaknai agama secara substantif. “Agama tidak pernah jauh dari keseharian kita—dalam relasi dengan diri sendiri, orang tua, masyarakat, hingga negara,” tutupnya.