Padepokan Aufklarung; Merawat Nalar Kritis Mahasiswa di Tengah Gempuran Zaman Digital
Menyoroti urgensi filsafat dalam merawat nalar kritis mahasiswa di era digital, sebagaimana tercermin dalam pelaksanaan Padepokan Aufklärung VI yang digelar oleh Al Hikmah Institute Makassar dan CEIS. Melalui wawancara dengan Pdt. Dr. Diks Pasande, seorang pemikir lintas iman dan pengampu materi Filsafat Barat.
NEWS & EVENTS
Siti Asma Ahmad (Pelajar Al Hikmah Institute)
1/10/2026


Di tengah derasnya arus digitalisasi yang membentuk cara berpikir generasi muda, tantangan merawat nalar kritis mahasiswa kian mendesak. Algoritma media sosial, banjir informasi, serta tawaran ideologi global sering hadir tanpa ruang refleksi yang memadai. Dalam konteks inilah filsafat kembali menemukan relevansinya sebagai instrumen pembebasan berpikir.
Hal tersebut mengemuka dalam pelaksanaan Padepokan Aufklärung VI, sebuah short course pemikiran kritis selama 30 hari yang diselenggarakan Al Hikmah Institute Makassar bekerja sama dengan Center for Eastern Indonesian Studies (CIES). Short course ini, diikuti oleh mahasiswa dari beragam latar belakang sosial, disiplin ilmu, serta orientasi pemikiran. Di sela sela kegiatan, Siti Asma Ahmad (Tim Al Hikmah Intitute) berkesempatan mewawancarai Pdt. Dr. Diks Pasande, M.Th pada Kamis (8/1/2025).
Dalam wawancara Pdt. Dr. Diks Pasande yang akrab di sapa 'Pace' Diks menekankan bahwa pengajaran filsafat justru semakin kontekstual di tengah dominasi budaya digital yang serba praktis. “Menghidupkan tradisi filsafat dan budaya kritis hari ini memang penuh tantangan. Namun di situlah sekaligus keindahannya,” ujar Diks saat ditemui di sela kegiatan.
Menurut Diks, filsafat memiliki tanggung jawab untuk menyederhanakan persoalan-persoalan kompleks agar dapat dipahami oleh semua kalangan. “Jika filsafat gagal dipahami, yang keliru bukan pesertanya, melainkan cara kita menyampaikannya,” katanya.
Pendeta Diks dikenal sebagai penggiat filsafat dan pemikir lintas iman. Ia pernah menjabat Ketua Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL) periode 2004–2009, serta sejak 2012 hingga 2028 berkiprah sebagai tenaga oikumene di Jerman. Dalam Padepokan Aufklärung VI, ia kembali dipercaya mengampu materi Filsafat Barat.
Dalam pandangannya, beberapa aliran filsafat Barat tetap relevan untuk membaca realitas mahasiswa hari ini. Eksistensialisme Martin Heidegger, misalnya, penting untuk memahami keterasingan manusia di tengah dominasi teknologi digital. Sementara itu, pemikiran Michel Foucault dinilai relevan untuk membongkar relasi pengetahuan, kuasa, dan kebenaran dalam arus ideologi global yang kian masif.
“Mahasiswa hari ini menghadapi perubahan yang sangat cepat dan sering kali berada di luar kendali. Jika tidak disadari, perubahan ini bisa membuat seseorang kehilangan identitas dan jati dirinya,” kata Diks.
Namun demikian, ia menolak sikap pesimistis. Menurutnya, mahasiswa justru perlu dipersiapkan agar memiliki filter dan kesadaran kritis. “Sebagai pemuda Islam, sebagai orang Indonesia, mereka harus mampu menyaring perubahan—tidak larut, tetapi juga tidak menutup diri,” ujarnya.
Diks juga mencatat adanya kecenderungan pergeseran orientasi di kalangan mahasiswa. Sebagian menjauh dari agama dan nilai dasar, sementara sebagian lain justru menerima ideologi global tanpa refleksi kritis. “Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan keyakinan dan nilai-nilai dasar di tengah gempuran idealisme transnasional yang sering tampil sangat meyakinkan,” katanya.
Ia menegaskan, tanggung jawab utama mahasiswa adalah keberanian melakukan pencarian kedirian melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang masa depan dan idealisme. “Inilah esensi intelektualitas: bertanya, bukan sekadar mengikuti,” ujar Diks.
Terkait itu, ia menilai Padepokan Aufklärung memiliki peran strategis dalam merawat tradisi berpikir kritis mahasiswa. “Kegiatan seperti ini penting agar mahasiswa tidak mengalami inferioritas intelektual yang pada akhirnya berdampak pada kondisi psikologis dan sikap sosial mereka,” tutupnya.
