Padepokan Aufklarung: Menyingkat Kurikulum Filsafat untuk Mahasiswa
Padepokan Aufklarung VI merupakan program short course yang dirancang untuk memperkuat fondasi intelektual mahasiswa melalui pembelajaran intensif logika, epistemologi, dan filsafat Islam. Kegiatan ini memadatkan kurikulum reguler Al Hikmah Institute agar lebih mudah diakses, sekaligus menanamkan nilai-nilai etika, kedisiplinan, dan tanggung jawab intelektual dalam proses belajar yang dialogis dan kritis.
KNOWLEDGE PRODUCTION
Moh. Fati Farhat (Pelajar Al Hikmah Institute)
1/24/2026


Makassar, 19 Januari 2026 — Shortcourse Padepokan Aufklarung VI yang diselenggarakan Al Hikmah Institute Makassar bekerja sama dengan Center For Eastern Indonesian Studies (CEIS) menghadirkan sejumlah pemateri dari kalangan akademisi dan aktivis. Salah satunya Hasnulir Nur, aktivis NGO sekaligus dosen Al Hikmah Institute Makassar, yang membawakan materi epistemologi.
Di sela kegiatan, Mohammad Fati Farhat dari tim Al Hikmah Institute mewawancarai Hasnulir mengenai konsep, latar belakang, hingga harapan dari Padepokan Aufklarung. Dari penuturannya, Aufklarung diposisikan sebagai format pembelajaran yang “menyingkat” kurikulum reguler Al Hikmah agar dapat diakses mahasiswa yang belum memperoleh dasar-dasar logika, epistemologi, dan filsafat Islam di bangku kuliah.
“Padepokan aufklarung adalah kegiatan rutin yang di lakukan oleh Al hikmah institute, sebenarnya seperti menyingkat kurikulum reguler yang ada di Al Hikmah, untuk mengakses para mahasiswa yang belum mendapatkan kuliah-kuliah semacam logika, epistemologi dan filsafat Islam,” ujar Hasnulir. Ia menjelaskan, model ini memungkinkan peserta memperoleh materi yang setara dengan program reguler satu tahun, tetapi dalam rentang waktu yang dipadatkan. Jika program reguler menyasar lulusan SMA yang hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi, maka Aufklarung dirancang untuk mahasiswa yang ingin memperkuat pondasi intelektualnya.
Menurut Hasnulir, latar belakang pendirian Aufklarung berangkat dari kebutuhan memperluas jangkauan penyebaran pengetahuan. Ia menilai, materi logika, epistemologi, dan filsafat Islam yang diajarkan dalam kegiatan ini belum banyak tersentuh di perguruan tinggi, padahal sangat penting untuk memasuki dunia pemikiran dan keilmuan. “Materi-materi yang di ajarkan di padepokan aufklarung tidak di ajarkan di perguruan tinggi, sementara itu adalah hal yang sangat penting untuk memasuki dunia pemikiran, dunia intelektual, dunia keilmuan,” katanya. Kegiatan utama yang dilakukan peserta, lanjutnya, adalah diskusi kelompok setelah menerima materi di kelas. Pola ini dimaksudkan untuk melatih peserta mengolah gagasan secara kritis dan dialogis.
Selain aspek intelektual, Aufklarung juga menanamkan nilai-nilai dasar pembinaan seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama, serta ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam proses pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari selama kegiatan berlangsung. Ke depan, Hasnulir berharap Aufklarung dapat menjangkau lebih banyak kalangan. Ia juga menaruh harapan agar para alumni mampu mewarnai pemikiran di lingkungan masing-masing, terutama selama kurikulum pendidikan nasional belum mengakomodasi secara memadai ilmu logika, epistemologi, dan filsafat.
Menutup wawancara, Hasnulir menyampaikan pesan khusus bagi pemuda. “Belajar logika, belajar epistemologi dan filsafat. Karena pengetahuan dan kebenaran itu akan lebih memiliki pondasi yang kokoh kalau kita belajar logika, epistemologi dan filsafat,” ujarnya.








