Merawat Dialog, Menjaga Keberagaman: Refleksi dari Forum Tudang Sipulung
Mengulas kegiatan forum Tudang Sipulung yang diselenggarakan oleh Al Hikmah Institute Makassar pada 20 Agustus 2023. Dengan menghadirkan tamu dari organisasi Pro Indonesiam Klasis-Nürtingen, Jerman, forum ini membahas moderasi beragama dan hubungan mayoritas-minoritas dalam konteks global.
NEWS & EVENTS
J. Solong
5/30/2025


Makassar, 20 Agustus 2023 — Komitmen Al Hikmah Institute Makassar sebagai ruang perjumpaan lintas iman dan budaya kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan forum Tudang Sipulung. Bertempat di kantor Al Hikmah Institute, acara ini menghadirkan tamu istimewa dari organisasi Pro Indonesiam, Klasis-Nürtingen, Jerman, dengan tema yang relevan sekaligus mendesak: "Sikap Mayoritas terhadap Minoritas: Menelisik Moderasi Beragama di Jerman."
Di tengah menguatnya eksklusivisme dan polarisasi identitas di berbagai belahan dunia, forum ini menjadi oase yang menyejukkan—membangun dialog, bukan sekadar diskusi.
Acara dibuka oleh Direktur Al Hikmah Institute, Juliadi Solong, yang menyampaikan sambutan hangat dan apresiasi atas kehadiran rombongan dari Jerman. Ia menegaskan pentingnya merawat ruang-ruang dialog untuk mengikis prasangka dan membangun jembatan kemanusiaan.
Dialog lintas iman bukan hal baru bagi Al Hikmah Institute. Selama ini, lembaga ini dikenal aktif menjalin relasi antarumat beragama, termasuk melalui kontribusi tokoh seperti Pendeta Diks Pasande, yang menjadi mentor sekaligus pengajar di institusi ini.
Suasana forum berlangsung akrab dan egaliter. Rombongan dari Jerman duduk melingkar bersama mahasiswa dan para penggiat moderasi beragama dari Indonesia. Lydia Häussermann, Ketua Rombongan Pro Indonesiam, menjadi pembicara pembuka dalam sesi diskusi.
Dalam paparannya, Lydia membagikan pengalaman komunitasnya dalam membangun relasi dengan umat Islam, khususnya para pengungsi dari Lebanon dan negara-negara Muslim lainnya.
“Hidup berdampingan bukan hanya tugas negara atau lembaga keagamaan. Ini adalah panggilan personal setiap manusia,” ujarnya.
Diskusi berkembang hangat, membahas berbagai isu seperti tantangan integrasi, perbedaan nilai budaya, hingga praktik keberagamaan di ruang publik. Namun yang lebih penting, forum ini menumbuhkan sesuatu yang tak mudah diukur: rasa saling percaya dan semangat untuk belajar satu sama lain.
Tudang Sipulung bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang refleksi. Di sini, keberagaman tidak hanya dipahami sebagai fakta sosial, tetapi sebagai panggilan moral. Toleransi saja tidak cukup. Dunia membutuhkan dialog yang aktif, inklusif, dan saling memperkaya.
Kita belajar bahwa menjadi mayoritas tidak berarti berkuasa atas yang lain. Dan menjadi minoritas bukan alasan untuk tersisih.
Sesi tanya jawab di penghujung acara menunjukkan antusiasme peserta dari kedua belah pihak. Pertukaran informasi berkembang menjadi pertukaran empati. Semua peserta pulang dengan bekal baru—keyakinan bahwa dunia yang lebih inklusif bukanlah angan-angan, melainkan cita-cita yang bisa diperjuangkan bersama.
Forum seperti ini perlu terus dirawat. Di tengah dunia yang semakin terhubung namun juga rentan terpecah, merawat dialog berarti merawat masa depan kemanusiaan.
Harapannya, inisiatif seperti Tudang Sipulung tak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi tumbuh menjadi gerakan kultural yang lebih luas, melibatkan berbagai elemen masyarakat—baik di Indonesia maupun di Jerman.
Sebab pada akhirnya, perbedaan bukanlah ancaman. Ia adalah kekayaan yang menunggu untuk dipahami, dijaga, dan dirayakan.






