Maluppa di Morowali: Budaya yang Bertahan di Tengah Gempuran Tambang
Mengulas ketangguhan budaya ritual Maluppa di kalangan masyarakat Bajo Morowali, dengan menyoroti bagaimana tradisi berjuang untuk tetap hidup di tengah tekanan industrialisasi dan pertambangan yang pesat.
FIELD NOTES & ETHNOGRAPHY
J. Solong
5/22/2025


Di sudut timur Sulawesi, tepatnya di Morowali, terbentang lanskap yang dahulu dihiasi hutan tropis dan laut biru nan luas. Kini, wajah wilayah itu berubah drastis. Deru mesin tambang, lalu-lalang truk pengangkut nikel, dan kilau smelter menjadi simbol baru dari apa yang kerap disebut sebagai kemajuan.
Namun, di balik gegap gempita industrialisasi tersebut, terselip sebuah warisan budaya yang terus berusaha bertahan: Maluppa.
Tradisi Maluppa ka Dilao, yang secara harfiah berarti “melepas ke laut”, merupakan salah satu ritual masyarakat Bajo, atau Suku Sama, yang bermukim di Desa Panimbawang, Kecamatan Bungku Selatan, Kabupaten Morowali. Dalam penuturan Hatta—seorang putra daerah sekaligus mantan aktivis—Maluppa adalah ungkapan syukur kepada alam, khususnya laut, melalui penyerahan sesajen sebagai bentuk penghormatan.
Lebih dari sekadar ritual, Maluppa sarat dengan nilai dan sakralitas. Norma-norma yang menyertainya menjadi pagar sosial yang tak kasat mata. Pelanggaran terhadapnya diyakini dapat mendatangkan murka dari penguasa laut, serta menimbulkan rasa malu yang mendalam bagi pelaku. Bagi masyarakat adat Bajo, rasa malu bukan sekadar emosi, melainkan penanda moral yang menjaga harmoni dan tata nilai bersama.
Namun, derasnya arus pembangunan tambang menghadirkan dinamika baru. Mobilitas pekerja dari luar daerah, gaya hidup konsumtif, dan relasi kuasa yang timpang perlahan menggeser tatanan lama. Budaya malu mulai tergantikan oleh budaya kompetisi dan pragmatisme. Di kalangan generasi muda, tolok ukur kehormatan bergeser: dari kearifan dan keluhuran budi menjadi persoalan gaji, gadget, dan gaya hidup.
Dalam situasi demikian, Maluppa seolah menjadi sekadar nostalgia. Ia tetap indah dalam ingatan, tetapi semakin jarang dijumpai dalam keseharian. Ketika tanah ulayat diambil alih tanpa musyawarah adat, masyarakat tidak hanya kehilangan ruang hidup, tetapi juga kehilangan martabat. Rasa malu yang dahulu menjadi rem sosial kini seperti kehilangan pijakan.
Bagaimana mungkin seseorang merasa malu, jika adat tak lagi dihormati oleh kekuasaan?
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam. Di beberapa desa, tokoh adat dan pemuda lokal mulai bangkit. Mereka menggelar musyawarah budaya, mendokumentasikan kisah-kisah leluhur, bahkan mengintegrasikan nilai-nilai maluppa dalam pendidikan informal. Sejumlah aktivis juga menjalin dialog kritis dengan perusahaan tambang, menuntut agar pembangunan tidak semata-mata berorientasi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek keberlanjutan budaya.
Morowali hari ini adalah cerminan banyak wilayah di Indonesia—berada di persimpangan antara modernitas dan tradisi. Di tengah riuh industri, maluppa tetap relevan. Ia menjadi suara hati yang mengingatkan bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari seberapa besar kita menjaga nilai-nilai yang menjadikan kita manusia.
