Logika sebagai Fondasi Nalar Kritis Mahasiswa di Era AI
Menyoroti urgensi penguatan logika sebagai fondasi nalar kritis mahasiswa di era kecerdasan buatan. Logika dipahami sebagai struktur berpikir utuh yang penting untuk menyaring informasi, menghindari ketergantungan pada AI, dan menumbuhkan tradisi intelektual yang sehat di kalangan mahasiswa.
KNOWLEDGE PRODUCTION
Siti Asma Ahmad (Pelajara Al Hikmah Institute)
1/18/2026


Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), penguatan nalar logis mahasiswa menjadi kebutuhan mendesak. Hal ini mengemuka dalam wawancara Tim Al Hikmah Institute bersama Andi Ashiem Amir, Steering Committee sekaligus pemateri logika pada kegiatan Short Course Padepokan Aufklärung VI, Sabtu, 17 Januari 2026. Wawancara tersebut dilakukan oleh Siti Asma Ahmad, tim Al-Hikmah Institute. Andi Ashiem Amir—akrab disapa Kanda Acim—selain aktif mengajar di Al-Hikmah Institute Makassar, juga dikenal sebagai pemateri di berbagai forum ilmiah nasional, termasuk sebagai pemateri Latihan Kader II (LK II) Nasional HMI, khususnya di kawasan Indonesia Timur. buat deskripsi singakt indonesia inggris, terjemahkan artikel ke bahasa inggris dan tentukan kategori artikel nya Sebagai pemateri logika, Kanda Acim menjelaskan bahwa logika tidak dapat dipahami secara parsial. Dalam kajian logika, terdapat keterkaitan erat antar-materi yang disusun secara sistematis.


“Logika itu dapat dilihat secara takwini dan tadwini. Secara tadwini, mungkin ia sudah banyak diterapkan, tetapi secara takwini—sebagai kesadaran dan struktur berpikir—masih perlu penguatan. Karena itu, logika tidak bisa dipilih sebagian saja. Ia harus dipahami secara utuh agar tidak melahirkan kontradiksi,” ujarnya. Menanggapi kondisi mahasiswa hari ini yang cenderung mengandalkan AI dan menginginkan jawaban instan tanpa proses berpikir panjang, Kanda Acim menilai bahwa keberadaan AI adalah fakta yang tidak bisa dinafikan. Namun, ketergantungan berlebihan justru berpotensi melemahkan kapasitas berpikir dan memperlambat pengembangan diri. “AI seharusnya dimaknai sebagai alat bantu yang memudahkan, bukan sumber utama yang menimbulkan ketergantungan. Logika tetap sangat relevan, karena kualitas pertanyaan seseorang sangat ditentukan oleh cara berpikirnya. Semakin kritis pertanyaan, semakin matang nalar yang dimiliki,” jelasnya. Ia menekankan, dengan nalar kritis yang kuat, mahasiswa dapat memposisikan AI hanya sebagai salah satu sumber pengetahuan, bukan pengganti proses berpikir.


Dalam konteks banjir informasi—baik fakta maupun hoaks—logika, menurutnya, berperan sebagai langkah awal verifikasi kebenaran. “Ketika kita dihadapkan pada dua informasi yang saling bertentangan, kaidah logika membantu kita memahami bahwa tidak mungkin keduanya benar atau salah sekaligus. Kesadaran ini menjadi pintu awal untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut,” katanya. Di akhir wawancara, Kanda Acim menyampaikan pesan dan harapan kepada peserta Short Course Padepokan Aufklärung VI agar diskusi dan tradisi literasi terus dirawat. Ia berharap materi logika yang diperoleh tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi diaplikasikan dalam kehidupan nyata. “Logika seharusnya menjadi ‘kacamata’ atau paradigma dalam melihat dan menghadapi persoalan di lingkungan masing-masing. Dengan begitu, proses pertumbuhan intelektualitas dan spiritualitas dapat berjalan lebih cepat dan lebih terarah,” pungkasnya
