Intizhar sebagai Etika Hidup di Zaman Penantian

Membahas konsep intizhar dalam teologi Mahdawiyah Syiah sebagai sebuah etika hidup, bukan sekadar sikap menunggu pasif. Penantian terhadap kemunculan Imam Mahdi dipahami sebagai kesiapsiagaan moral yang menuntut pembentukan akhlak, kehati-hatian etis, dan komitmen hidup terhadap keadilan di masa kini.

CULTURAL STUDIES

Mohammad Adlany (Pengajar dan Peneliti Al Hikmah Institute)

2/4/2026

Dalam percakapan sehari-hari, kata menunggu sering kali identik dengan pasif: duduk, diam, dan membiarkan waktu berjalan. Namun dalam teologi Mahdawiyah Syiah, intizhar—menanti kemunculan Imam Mahdi—memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar sikap menunggu peristiwa masa depan, melainkan sebuah etika hidup yang membentuk cara seseorang memandang dirinya, masyarakat, dan sejarah.

Konsep Mahdawiyah memang berbicara tentang masa depan umat manusia, tentang tegaknya keadilan universal di tangan seorang pemimpin ilahi. Namun yang sering luput disadari, ajaran ini tidak hanya berorientasi ke depan. Ia justru menuntut kesiapan pada saat ini. Masa depan yang dijanjikan itu, dalam pandangan ini, bukan alasan untuk pasif, tetapi alasan untuk berbenah.

Sebuah riwayat dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as, yang diriwayatkan dalam Al-Ghaibah karya an-Nu‘mani, memberi penekanan kuat pada makna intizhar. Dalam riwayat tersebut, Imam menegaskan bahwa siapa pun yang ingin menjadi bagian dari para sahabat al-Qa’im (Imam Mahdi) hendaknya menanti, dan dalam penantian itu ia harus mengamalkan sikap wara’ (kehati-hatian moral) serta makarim al-akhlaq (kemuliaan akhlak). Bahkan bila ia wafat sebelum kemunculan itu, pahalanya disamakan dengan mereka yang sempat menyaksikannya.

Pesan ini jelas: penantian bukanlah keadaan kosong. Ia adalah keadaan yang sarat dengan tuntutan etis. Intizhar, dengan demikian, menjadi semacam kriteria selektif. Tidak semua orang yang mengaku mencintai Imam Mahdi otomatis layak menjadi penolongnya. Yang membedakan adalah apakah ia hidup sebagai seorang penanti atau hanya sebagai pengagum dari jauh. Penantian yang sejati menuntut konsistensi antara keyakinan dan cara hidup.

Untuk memahami dimensi psikologis intizhar, kita bisa membayangkan seseorang yang menanti tamu agung yang sangat dimuliakan, tetapi ia tidak tahu kapan tamu itu akan datang. Ia tidak mungkin bersikap santai. Ia sesekali keluar rumah, melihat ke jalan, memastikan ponselnya aktif, membersihkan ruang tamu, dan menyiapkan jamuan terbaik. Seluruh hidupnya diwarnai oleh kesiapsiagaan.

Begitulah keadaan batin seorang muntazhir—orang yang menanti. Ia hidup dalam kewaspadaan yang produktif. Kewaspadaan ini bukan hanya pada peristiwa di luar dirinya. Ia memang peka terhadap realitas sosial, politik, dan moral di sekitarnya, tetapi yang lebih penting adalah persiapan di dalam dirinya. Riwayat tersebut menegaskan dua fondasi utama: wara’ dan makarim al-akhlaq. Tanpa keduanya, penantian berubah menjadi kontradiksi. Seseorang mengaku menanti Imam keadilan, tetapi dirinya sendiri belum siap hidup dalam keadilan.

Di sinilah intizhar menjadi semacam etika malu yang halus. Bayangkan seseorang yang mengundang tamu terhormat, tetapi tidak menyiapkan apa pun untuk menyambutnya. Ketika tamu itu benar-benar datang, yang muncul bukan kebahagiaan, melainkan rasa malu karena ketidaksiapan. Rasa malu ini bersifat eksistensial: kesadaran bahwa diri belum layak.

Demikian pula, orang yang mengaku menanti Imam Zaman tetapi tidak membenahi akhlaknya, sejatinya sedang menempatkan dirinya dalam posisi yang ganjil. Ia menunggu, tetapi tidak menyiapkan diri untuk apa yang ia tunggu. Dalam kerangka ini, intizhar bukanlah pelarian dari sejarah. Ia justru cara mengambil posisi sadar di dalam sejarah. Menanti Imam Mahdi berarti hidup dengan komitmen moral yang terus-menerus, seolah-olah keadilan itu bisa hadir kapan saja dan menuntut kesiapan kita. Maka, menanti bukan lagi berarti diam. Ia berarti hidup dengan standar akhlak yang lebih tinggi, dengan kehati-hatian moral yang lebih tajam, dan dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah bagian dari persiapan menyambut kebenaran.

Intizhar, pada akhirnya, bukan sekadar doktrin teologis. Ia adalah cara hidup. Sebuah etika eksistensial di zaman penantian.