Focus Group Discussion Jadi Jantung Metode Padepokan Aufklärung VI
Mengulas penerapan Focus Group Discussion (FGD) sebagai metode inti pembelajaran dalam Short Course Padepokan Aufklärung VI yang diselenggarakan Al-Hikmah Institute Makassar. Melalui pendekatan epistemologis dan dialog kritis, FGD diposisikan sebagai ruang pembentukan kesadaran intelektual mahasiswa dalam merespons krisis literasi, banjir informasi, dan tantangan berpikir keislaman kontemporer.
KNOWLEDGE PRODUCTION
Siti Asma Ahmad (Pelajar Al Hikmah Institute)
1/17/2026


Focus Group Discussion (FGD) menjadi metode inti dalam pembelajaran Short Course Padepokan Aufklärung VI yang diselenggarakan Al-Hikmah Institute Makassar. Metode ini dipandang efektif dalam merespons krisis literasi dan tantangan epistemik yang dihadapi mahasiswa saat ini. Miswar Abdullah, yang akrab disapa Kanda Miswar, selaku steering committee sekaligus pemateri epistemologi, menjelaskan bahwa desain pembelajaran Padepokan Aufklärung disusun secara deliberatif. Metode tersebut mengombinasikan penguatan konseptual, eksplorasi referensi, dialog kritis, serta FGD sebagai ruang artikulasi dan pengujian gagasan.
“Pemikiran Islam tidak lahir dalam ruang monolog, melainkan tumbuh dalam tradisi dialog dan perdebatan ilmiah (munaẓarah). Karena itu, ia menuntut keterlibatan akal, pengalaman eksistensial, dan kejujuran intelektual peserta,” ujar Miswar saat diwawancarai tim Al-Hikmah Institute, Sabtu (17/1/2026). Menurut Miswar, FGD berperan penting dalam membentuk mahasiswa sebagai subjek pengetahuan. Melalui diskusi kelompok, peserta dilatih untuk berpikir mandiri, mengajukan pertanyaan kritis, serta merumuskan sudut pandang sendiri, bukan sekadar menerima pengetahuan secara pasif. Di tengah dunia yang kian plural, cepat, dan sarat persoalan, FGD juga dinilai mampu menjembatani konsep teoretis dengan realitas praksis kontemporer. “Peserta diharapkan tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu membaca konteks,” katanya.
Menilai efektivitas metode tersebut, Miswar menyebut hasilnya melampaui ekspektasi awal. Antusiasme peserta, kedalaman pertanyaan yang muncul, serta keberanian mengkritisi asumsi-asumsi yang selama ini dianggap mapan menjadi indikator keberhasilan. “Peserta tidak sedang menghafal diskursus pemikiran, melainkan sedang menghidupkannya,” ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dinamika diskusi tetap terbuka untuk evaluasi dan penyempurnaan. Perkembangan epistemik peserta, lanjut Miswar, tampak pada beberapa level. Secara kognitif, mahasiswa mulai mampu membedakan antara doktrin normatif dan historisitas ajaran, antara wahyu dan interpretasi, serta antara keyakinan dan justifikasi epistemologisnya. Dari sisi sikap intelektual, peserta terlihat lebih terbuka, tidak reaktif, dan tidak mudah menghakimi perbedaan. Keberanian bertanya “mengapa” dan “bagaimana”, alih-alih sekadar menerima, dipandang sebagai tanda tumbuhnya kesadaran epistemik—yang menjadi inti orientasi pemikiran keislaman.
Terkait relevansi materi epistemologi, Miswar menegaskan bahwa kajian tersebut justru semakin penting di tengah banjir informasi, maraknya hoaks, polarisasi agama dan ideologi, serta klaim kebenaran yang saling menegasikan. “Tanpa epistemologi, agama mudah direduksi menjadi emosi, slogan, atau ideologi yang kaku dan taqlid,” ujarnya. Epistemologi, menurutnya, berfungsi menjaga iman agar tetap rasional dan bertanggung jawab, sekaligus membentuk cara beragama yang dewasa dan dialogis. Ia menambahkan, pendekatan epistemologis juga mempersiapkan mahasiswa untuk berdialog dengan perkembangan sains, filsafat, serta realitas sosial-politik yang terus berubah. Menutup wawancara, Miswar menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak berhenti sebagai pewaris ajaran, melainkan menjadi pemikir dan penjaga maknanya. “Beranilah berpikir kritis tanpa kehilangan adab. Dalami Islam sebagai jalan pencarian makna, bukan sekadar identitas,” katanya. Ia berharap Padepokan Aufklärung dapat menumbuhkan cinta pada kebenaran, bukan sekadar hasrat memenangkan argumen. “Islam tidak membutuhkan suara yang paling keras, tetapi pikiran yang paling jujur, pemahaman yang paling luas, dan tindakan yang paling bertanggung jawab.”




