Filsafat Islam, Kompas Makna di Era Sains dan Teknologi

Mengulas pandangan tentang urgensi filsafat Islam di tengah dominasi sains dan teknologi. Filsafat Islam diposisikan sebagai kompas makna yang membantu mahasiswa menjaga keseimbangan antara rasionalitas, spiritualitas, dan orientasi nilai, sekaligus sebagai kerangka kritis untuk menghadapi krisis makna di era modern.

KNOWLEDGE PRODUCTION

Siti Asma Ahmad (Al Hikmah Institute Felow)

1/19/2026

Di tengah dominasi sains dan teknologi yang kian mengakselerasi kehidupan modern, filsafat Islam dinilai tetap memiliki peran penting bagi dunia akademik, khususnya mahasiswa. Hal tersebut disampaikan Mohammad Adlany, Ph.D, pemateri filsafat Islam dalam kegiatan Short Course Padepokan Aufklärung VI yang diselenggarakan Al Hikmah Institute Makassar.

Mohammad Adlany, selain aktif sebagai pengajar di Al Hikmah Institute Makassar, juga dikenal sebagai penggiat filsafat Islam, penulis buku, serta pemateri berbagai forum diskusi filsafat dan keislaman. Dalam wawancara di sela-sela kegiatan Shortcourse , Senin 19 Januari 2026 bersama Siti Asma Ahmad - tim Al Hikmah Institute- ia menyoroti urgensi, relevansi, hingga tantangan pengajaran filsafat Islam di dunia mahasiswa hari ini.

Menurut Adlany, urgensi filsafat Islam terletak pada fungsinya sebagai fondasi reflektif dan kritis atas sains dan teknologi. Ia menegaskan bahwa sains mampu menjawab pertanyaan tentang bagaimana (how), tetapi tidak memadai untuk menjawab mengapa (why) dan untuk apa (for what). Filsafat Islam—khususnya melalui kajian metafisika yang mencakup ontologi, kosmologi, epistemologi, psikologi, teologi, dan etika—membantu mahasiswa menyadari batas ontologis dan epistemologis sains. Kesadaran ini penting agar mahasiswa tidak terjebak pada saintisme, sekaligus memperoleh orientasi nilai dan tujuan atas penggunaan teknologi. “Dengan demikian, filsafat Islam berfungsi sebagai kompas makna di tengah akselerasi teknologis,” ujarnya.

Adlany menolak anggapan bahwa filsafat bertentangan dengan spiritualitas. Dalam tradisi filsafat Islam, kata dia, tidak dikenal dikotomi antara akal dan iman. Akal justru diposisikan sebagai instrumen penyingkap kebenaran, bukan lawan wahyu. Wahyu membutuhkan akal dalam proses rasionalisasi, sementara wahyu juga memberi bahan kontemplasi bagi akal tentang keluasan realitas. Kritik intelektual diarahkan pada pemurnian pemahaman, bukan pada destruksi iman. Spiritualitas, menurutnya, bukanlah sikap anti-rasio, melainkan kedalaman eksistensial yang lahir dari refleksi rasional. “Inilah yang membedakan critical thinking dalam filsafat Islam dari skeptisisme nihilistik,” jelasnya.

Lebih jauh, Adlany menekankan bahwa filsafat Islam tidak semata bernilai historis, tetapi juga konseptual dan aplikatif. Relevansinya tampak jelas di tengah krisis makna, identitas, dan tujuan hidup yang banyak dialami mahasiswa modern. Selain itu, filsafat Islam menawarkan paradigma ilmu yang integratif, sebagai alternatif dari pendekatan reduksionistik, serta menjadi respons atas tantangan relativisme moral dan fragmentasi pengetahuan. Konsep-konsep seperti wujud, kehakikian wujud, gradasi wujud, kesempurnaan jiwa, hingga Tuhan sebagai puncak kesempurnaan wujud tetap relevan sebagai kerangka memahami realitas dan diri manusia di era modern.

Adlany juga menjelaskan bahwa pemikiran para filsuf besar Islam dapat diaplikasikan secara praktis dalam kehidupan intelektual mahasiswa. Ibnu Sina, misalnya, menekankan rasionalitas sistematis dan disiplin intelektual. Pemikirannya mendorong mahasiswa membangun argumen yang koheren dan metodologis, serta relevan dalam pengembangan academic reasoning dan struktur berpikir ilmiah.

Sementara itu, Suhrawardi mengajarkan bahwa pengetahuan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga kehadiran makna (ilm al-ḥuḍhūrī). Ia mendorong refleksi batin, intuisi intelektual, kesucian jiwa, dan kepekaan etis, sehingga membantu mahasiswa menyeimbangkan logika dengan kesadaran diri. Adapun Mulla Sadra menawarkan sintesis rasio, wahyu, dan pengalaman spiritual. Konsep gerak substansial (ḥarakah jawhariyyah) yang ia gagas mengajarkan bahwa belajar merupakan proses transformasi eksistensial, bukan sekadar akumulasi informasi.

Menyoal minimnya minat mahasiswa terhadap filsafat Islam, beliau mengidentifikasi sejumlah faktor, antara lain pendekatan pengajaran yang terlalu historis dan tekstual, penggunaan bahasa teknis yang tidak dikontekstualisasikan, serta anggapan bahwa filsafat bertentangan dengan agama atau tidak bersifat praktis. Selain itu, ia menilai pragmatisme dan orientasi materialistik mahasiswa—yang kuliah semata untuk mencari pekerjaan—juga menjadi tantangan tersendiri, mengingat filsafat Islam pada tahap awal memang bersifat teoretis dan abstrak. Sebagai strategi, ia menyarankan agar filsafat Islam dikaitkan dengan isu-isu aktual seperti sains, teknologi, etika, kecerdasan buatan (AI), dan krisis makna. Pendekatan problem-based learning dinilai lebih efektif dibanding sekadar penyampaian kronologi tokoh. Filsafat Islam, tegasnya, harus ditampilkan sebagai alat berpikir, bukan museum gagasan.

Dalam konteks pengajaran, Adlany menegaskan bahwa filsafat Islam seharusnya diajarkan sebagai latihan berpikir, bukan hafalan definisi. Ia perlu dihadirkan sebagai dialog antara teks, realitas, dan pengalaman hidup mahasiswa, serta ditempatkan dalam kerangka refleksi eksistensial tentang siapa manusia, apa tujuan hidup, dan bagaimana seharusnya hidup dijalani. Pendekatan seperti diskusi tematik, penulisan reflektif, serta integrasi antara kajian rasional dan dimensi etis-spiritual dinilai lebih efektif untuk menghidupkan filsafat Islam di ruang kelas. Kebebasan Berpikir dan Komitmen Keagamaan Terakhir, Adlany menegaskan bahwa dalam tradisi filsafat Islam, kebebasan berpikir merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual. Akal tidak diposisikan sebagai ancaman terhadap agama, melainkan sebagai sarana untuk memahami wahyu secara lebih mendalam dan membedakan iman reflektif dari taqlid buta. “Tradisi filsafat Islam justru menunjukkan bahwa kebebasan berpikir tidak identik dengan relativisme,” katanya.

Dengan rasionalitas yang sehat, iman dapat tumbuh menjadi lebih sadar dan bertanggung jawab. Karena itu, filsafat Islam, menurut Adlany, dapat menjadi ruang aman akademik bagi mahasiswa untuk berpikir bebas tanpa kehilangan komitmen religius.