Dicky Sofjan: Saatnya Umat Beragama Membuka Diri dan Merangkul Keberagaman

Diskusi publik bertajuk "Pemetaan Pemikiran Keagamaan Kontemporer" bersama Dicky Sofjan dari Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) menghadirkan wawasan segar tentang pentingnya keberagaman, inklusivitas, dan dialog lintas iman.

NEWS & EVENTS

J. Solong

5/27/2025

Makassar, Al-Hikmah — Al Hikmah Institute Makassar menggelar diskusi publik bertajuk “Pemetaan Pemikiran Keagamaan Kontemporer” pada Sabtu (10/5/2025), dengan menghadirkan akademisi terkemuka dari Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Dicky Sofjan, sebagai narasumber utama.

Diskusi ini dipandu oleh Noer Ramadhan La Udu, seorang akademisi muda yang aktif dalam kajian pemikiran Islam dan isu-isu keberagaman. Dengan gaya moderasi yang hangat dan terarah, Noer berhasil membawa suasana dialog menjadi hidup dan interaktif, menjembatani gagasan Dicky dengan pertanyaan kritis dari para peserta.

Acara yang berlangsung di Makassar ini diikuti oleh sejumlah aktivis, mahasiswa, serta dosen dari berbagai institusi pendidikan. Dalam paparannya, Dicky menyerukan pentingnya pendekatan baru dalam kehidupan beragama, yakni lebih terbuka, inklusif, dan dialogis.

“Seorang nabi pasti kosmopolitan—inklusif, kritis, progresif, dan futuristik,” ujar Dicky di hadapan para peserta.

Ia menekankan pentingnya membangun ruang-ruang perjumpaan yang konstruktif antarumat beragama guna menciptakan pemahaman yang lebih damai dan mendalam.

Sebelum memasuki materi utama, Dicky membagikan pengalamannya tinggal dan belajar di berbagai negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, Singapura, Jepang, Iran, Italia, dan Brunei Darussalam. Menurutnya, pengalaman lintas negara memperkaya perspektif dalam memahami keberagaman tafsir dan praktik keagamaan.

Dicky juga menyoroti masih minimnya perhatian dalam studi keislaman di Indonesia terhadap isu-isu masa depan, seperti krisis ekologi dan perkembangan teknologi.

“Padahal, Al-Qur’an dan hadis sarat dengan orientasi eskatologis dan pemikiran masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, dengan kemajuan teknologi seperti analisis big data, umat manusia seharusnya mampu memproyeksikan arah peradaban sekaligus mempertimbangkan peran agama dalam menjawab tantangan zaman.

Dalam forum tersebut, Dicky juga berbagi pengalamannya berdialog dengan berbagai kelompok lintas iman, termasuk komunitas Mormon di Amerika Serikat. Meski kerap dianggap menyimpang oleh arus utama Kekristenan, komunitas tersebut justru menjadi contoh konkret tentang beragamnya tafsir dalam satu agama.

“Di Amerika, gereja adalah salah satu institusi terkaya, bahkan melebihi korporasi besar. Mereka tidak dikenai pajak,” ungkapnya.

Dicky turut menyinggung kerja sama antara Universitas Oxford dan eBay melalui Skoll Centre yang dipimpin oleh Jeffrey Skoll. Kolaborasi tersebut meneliti relasi antara agama dan hukum, suatu bidang yang menurutnya masih menyisakan banyak celah.

“Banyak pemuka agama belum memahami hukum secara mendalam, dan sebaliknya, para ahli hukum masih kerap abai terhadap peran agama,” tambahnya.

Ia menutup paparannya dengan menekankan urgensi membicarakan isu kebebasan beragama dan berkeyakinan (freedom of religion or belief) dalam skala global. Isu ini, katanya, sangat relevan, terutama bagi kelompok-kelompok minoritas yang hingga kini masih menghadapi berbagai bentuk diskriminasi.

Kehadiran Dicky Sofjan di Al Hikmah Institute bukanlah yang pertama. Pada kunjungan sebelumnya ke Makassar, ia juga sempat menjadi pembicara dalam forum serupa. Gagasan dan wawasannya yang luas terus mendapatkan apresiasi karena menghadirkan kebaruan serta perspektif segar dalam memahami keberagamaan di era kontemporer.